Promkes Jurangombo

Kamis, 27 Juni 2013

Jangan Minum Kapsul warna MERAH

oleh : Asti Nugroho

Tujuan kerja lapangan pada antropologi terapan adalah memperkenalkan suatu perubahan tertentu pada cara hidup suatu masyarakat tertentu. Perubahan justru menjadi hal yang memang ditawarkan dalam kerja lapangan ini. Perubahan yang diusahakan tentunya adalah perubahan yang tidak mengganggu masyarakat dan eksistensi kebudayaan mereka. Menjamin agar masyarakat tetap merasa aman dengan perubahan yang ditujukan bagi mereka inilah yang harus dikedepankan dalam antropologi terapan, karena dasar dari ilmu antropologi adalah memahami kebudayaan manusia.


Contohnya, dalam ilmu kedokteran warna pil ataupun kapsul sama sekali tidak mempengaruhi kondisi kesehatan pasien, yang terpenting adalah unsur penyusun obat tersebut. Akan tetapi hal ini berbeda dengan apa yang dipandang oleh antropologi kesehatan. Antropologi kesehatan menerapkan pengetahuan budayanya pada upaya penyembuhan dan perbaikan kesehatan suatu masyarakat. Orang-orang Madura memiliki kepercayaan atau keteguhan tentang makna-makna signatura (warna bisa mempengaruhi kondisi tubuh). Bagi mereka warna merah bersifat panas, sedangkan sakit juga bersifat panas. Ketika dokter memberikan pil ataupun kapsul berwarna merah sebagai obat penambah darah, alhasil tidak ada satupun warga yang mau meminum. Di sinilah ilmu terapan dari antropologi kesehatan terlibat untuk mengatasi ketidaksepahaman yang timbul di antara keduanya. Sakit yang bersifat panas tidak bisa disembuhkan dengan materi yang memilki unsur panas juga (dalam hal ini kapsul atau pil berwarna merah yang warga terima). Sebagai solusinya kapsul ataupun pil tadi diubah warnanya menjadi kuning dan putih. Hanya dengan mengubah warna, warga kemudian bersedia meminumnya. Pengetahuan budaya yang dimiliki antropologi kesehatan mampu menjembatani hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh ilmu kedokteran. Antropologi kesehatan turut membantu para dokter untuk memberikan perubahan mengenai kondisi kesehatan warga Madura, namun tidak menjadikan warga merasa tidak nyaman atas program tersebut. Deskripsi inilah yang sekiranya mampu memberikan gambaran bahwa ilmu antropologi terapan mampu memberikan kontribusi pada masyarakat, yang efeknya bisa dirasakan secara langsung oleh mereka tanpa harus mengusik kepahaman budaya yang mereka miliki.

Penulis adalah Mahasiswi Anthropologie UGM semester IV



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar