Promkes Jurangombo

Jumat, 01 Juli 2016

KEGIATAN SURVEY MAWAS DIRI (SMD)



Pembuatan Peta Permasalahan Kelurahan Jurangombo Selatan


Survei mawas diri /Survey Berbasisi Masyarakat adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan pengkajian masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat dan kader setempat dibawah bimbingan petugas kesehatan atau perawat di desa ( Depkes RI, 2007). Tujuan survei mawas diri / Survey berbasis Masyarakat  adalah masyarakat lebih mengenal kesehatan yang ada di desa/ kelurahan  dan menimbulkan minat atau kesadaran untuk mengetahui masalah kesehatan dan pentingnya permasalahan tersebut untuk diatasi.
Metode mawas diri diciptakan oleh yayasan Indonesia sejahtera, salah satu LSM yang banyak bergerak dibidang pembinaan kesehatan masyarakat didaerah pedesaan. Mawas diri sering dipakai oleh berbagai instansi yang terkait dengan program kesehatan dengan melakukan beberapa modifikasi sesuai dengan keperluannya masing-masing. Mawas diri harfiah berarti melihat kedalam diri sendiri untuk mengenali secara sadar berbagai kelemahan dan kekurangan yang dihadapi. Apabila seseorang telah sampai pada tingkat mawas diri, maka dengan sendirinya ia akan melakukan tindakan untuk menanggulanginya dengan penuh kesadaran dan dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya.
Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan untuk mengenal komunitas. Orang-orang yang berada di komunitas merupakan mitra dan berperan didalam proses keperawatan kesehatan komunitas. Tujuan keperawatan dalam mengkaji komunitas adalah mengidentifikasi faktor positif dan faktor negatif yang berbenturan dengan masalah kesehatan dari masyarakat hingga sumber daya yang dimiliki komunitas dengan tujuan merancang strategi untuk promosi kesehatan. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan dilakukannya Survei Mawas Diri /Survey Berbasis Masyarakat yang diikuti dengan kegiatan musyawarah masyarakat desa.
Puskesmas jurangombo memandang perlu untuk melalukan SMD diwilayahnya dalam mewujudkan visi pembangunan nasional kita ( Indonesia Yang Mandiri,Maju,Adil dan Makmur) adalah saling kerjasama antara beberapa komponen,mulai dari masyarakat sampai dengan penentu kebijakan.Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah pengembangan desa siaga,dimana masyarakat mampu menggali /mendeteksi hingga mengatasi masalah kesehatan di wilayang masing – masing.Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan dari sector lain seperti Pemerintah Kelurahan,Puskesmas setempat,Kader Kesehatan,Tokoh Agama,Tokoh Masyarakat,Karang Taruna atau Ormas,bahkan LSM.
Adapun indikasi keberhasilan suatu Desa atau Keluarga Siaga adalah ketika masyarakatnya tidak kesulitan untuk mengakses fasilitas dan pelayanan kesehatan,yang ada di wilayah setempat, Masyarakat melaksanakan dan mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat ( UKBM ),seperti surveilans berbasis masyarakat,posyandu,penanggulangan bencana atau kedaruratan kesehatan,penyehatan lingkungan,sehingga masyarakatnya bisa menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat Selain indikasi di atas,wilayah tersebut memiliki kader kesehatan yang mau dan mampu menjadi penerus ke tingkat dasar,memiliki forum guna membahas hal-hal yang menimbulkan masalah kesehatan di wilayahnya,melaksanakan koordinasi yang rutin di forum tersebut,melaksanakan survey mawas disi,melaksanakan,ada petugas kesehatan yang mendampingi kegiatanya,bahkan sudah memilki peraturan tentang kesehatan dan terealisasi.
Hal yang melatarbelakangi kegiatan SMD ini adalah perkembangan penyakit dan adanya permaalahan kesehatan yang menggelisahkan masyarakat di wilayah tersebut misalnya penyebaran HIV/ AIDS sampai dengan saat ini sangat memprihatinkan,secara akumulatif kasus HIV/AIDS meningkat dari waktu ke waktu, kasus ini tidak kalah pentingnya dari kasus TBC ataupun Hepatitis, Cikungunya ,Demam Berdarah juga perlu diwaspadai .Peningkatan itu terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia tidak terlepas di Kota Magelang. Upaya untuk meredam laju penyebaranya telah banyak hal yang sudah dilakukan,seperti pencegahan seperti BOOM PSN yang di lakukan di kelurahan-kelurahan wilayah puskesmas jurangombo, perawata penderita terutama penyakit menular hingga sampai upaya pengembalian penderita ke masyarakat.Namun semakin banyak yang muncul ke permukaan,hal ini pertanda tidak mudahnya menekan epidemic ini.
            Perlu diperhatikan bahwa penanggulangan HIV /AIDS ,TBC, DB, Cikungunya dll harus dilakukan secara terpadu mulai dengan Program Pemberdayaan Masyarakat yang ada dengan prinsip transparansi,partisipasif,akuntabilitas,serta memperhatikan nilai agama dan budaya masyarakat Indonesia kususnya di kota Magelang bahkan tahun 2016 ini di kota Magelang di canangkan sebagai Kota sejuta Bunga yang relijius dengan demikian mendorong masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungannya dan menjadikan masyarakat tahu,mau dan mampu menanggulangi penularan HIV/ AIDS,TBC dan penyakit-penyakit maupun kasus kesehatan yang lain di lingkingannya,.Menginggat hal-hal tersebut sangat diperlukan dukungan dari aparatur Pemerintah di tingkat Kecamatan dan Desa/kelurahan untuk menangani,monitoring,dan pemantauan perkembangan,penyuluhan,motivasi masyarakat,pembentukan kelompok masyarakat yang peduli dengan HIV /AIDS dan juga tidak kalah pentingnya dengan penyakit-penyakit yang lainya.
           Karena kasus di wilayah Puskesmas Jurangombo ,Kecamatan Magelang Selatan Kota Magelang sudah ditemukan kasus HIV maupun AIDS,maka dari itu wilayah ini perlu mendapat perhatian khusus untuk wilayahnya.Baik dari masyarakat maupun Pemerintah.Karena wilayah ini ada spot atau titik- titik rawan yang dapat memunculkan factor resiko kasus HIV AIDS, dan juga factor resiko penyakit –penyakit yang lain Oleh karena itu ,hal ini menjadi tanggungjawab kita bersama dalam hal ini pemerintah, kader, TOMA, dan masyarakat itu sendiri dalam  meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dalam penanggulangan perkembangan penyakit dan masalah kesehatan di masyarakatnya.


 
 


 




Oleh : Anik Purwanti, AMK



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar